Tafsir Surah Al-Waqi’ah

Avatar

Tafsir Surah Al-Waqi’ah

Terdapat beberapa hadits-hadits yang menyebutkan surah Al-Waqi’ah secara khusus. Di antaranya adalah hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ شِبْتَ، قَالَ: شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالوَاقِعَةُ، وَالمُرْسَلَاتُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

Wahai Rasulullah, engkau telah beruban.” Beliau bersabda, ‘Aku telah dibuat beruban oleh Surat Hud, Al-Waqi’ah, Al-Mursalat, ‘Amma yatasaa aluun (An-Naba’), dan Idzasysyamsu kuwwirat (At-Takwir)’.”([1])

Pada hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwasanya ada sebagian surah di dalam Alquran yang cepat membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beruban, di antaranya adalah surah Hud, Al-Waqi’ah, Al-Mursalat, An-Naba’, dan At-Takwir. Surah-surah tersebut semuanya berbicara tentang dahsyatnya hari kiamat, dan mengingatkan bahwasanya kehidupan dunia hanyalah sementara dan tidak abadi.

Demikian juga riwayat menjelaskan bahwa Surah Al-Waqi’ah merupakan salah satu dari surah-surah Al-Mufashshal, yaitu termasuk dalam Thiwaal Al-Mufashshal, yaitu surah-surah al-Mufashhol yang panjang yang sering dibaca oleh Nabi ketika shalat subuh. Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu berkata,

وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ الْوَاقِعَةَ وَنَحْوَهَا مِنَ السُّوَرِ

Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat fajar (Subuh), beliau membaca surah Al-Waqi’ah dan surah-surah yang semisal dengannya.”([2])

 

Di antara hadits lain yang menyebutkan tentang surah Al-Waqi’ah adalah yang banyak diyakini oleh sebagian kita bahwa surah Al-Waqi’ah dapat menghalangi kemiskinan. Ketahuilah bahwa hadits ini adalah hadits yang mungkar.

أَنَّ عُثْمَانَ دَخَلَ عَلَى ابْنِ مَسْعُودٍ يَعُودُهُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَ: مَا تَشْتَكِي؟ قَالَ: ذُنُوبِي. قَالَ: فَمَا تَشْتَهِي؟ قَالَ: رَحْمَةَ رَبِّي. قَالَ: أَفَلَا نَدْعُو لَكَ طَبِيبًا؟ قَالَ: الطَّبِيبُ أَمْرَضَنِي. قَالَ: أَفَلَا نَأْمُرُ لك بعطائك؟ قَالَ: لَا حَاجَةَ لِي فِيهِ، حَبَسْتَهُ عَنِّي فِي حَيَاتِي، وَتَدْفَعُهُ لِي عِنْدَ مَمَاتِي؟ قَالَ: يَكُونُ لِبَنَاتِكَ مِنْ بَعْدِكَ. قَالَ: أَتَخْشَى عَلَى بَنَاتِي الْفَاقَةَ مِنْ بَعْدِي؟ إِنِّي أَمَرْتُهُنَّ أَنْ يَقْرَأْنَ سُورَةَ (الْوَاقِعَةِ) كُلَّ لَيْلَةٍ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول: (مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا

Ketika Utsman menjenguk Ibnu Mas’ud saat sakit dan berakhir dengan wafatnya tersebut, beliau bertanya: Apa yang kamu keluhkan? Dia menjawab: Dosa-dosaku’. ‘Utsman berkata: ‘Apa yang kamu harapkan? Dia menjawab: ‘Rahmat Rabbku’. ‘Utsman kembali bertanya: ‘Apakah aku perlu panggilkan seorang dokter utukmu? Dia menjawab: ‘Dokterlah yang membuatku sakit’. Kemudian ‘Utsman berkata: ‘Perlukah aku mintakan untuk memberikan sesuatu kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak memerlukannya, dahulu engkau tidak memberikan kepadaku saat aku hidup (masih sehat), dan engkau memberikannya kepadaku saat aku hendak mati?’ ‘Utsman berkata: ‘Pemberian itu dapat diberikan kepada putri-putrimu sepeninggalmu’. Dia berkata: Apakah kamu mengkhawatirkan kemiskinan terhadap putri-putriku setelah aku meninggal? Sungguh aku telah perintahkan kepada mereka untuk membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam. Sesungguhnya aku telah mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa yang membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam dia tidak akan pernah merasakan kemiskinan selamanya’.”

Hadits ini dha’if dan bahkan mungkar, dan sebab kedha’ifan hadits ini banyak. Di antara yang menyebabkan hadits ini dha’if atau bahkan mungkar adalah sanadnya yang terputus; perawinya dha’if; ada keguncangan dalam hadits tersebut; dan matannya juga mungkar. Maka dari itu, para ulama seperti Imam Ahmad, Abu Hatim Ar-Razi, Ibnu Abi Hatim, Ad-Daruquthni, Ibnu Jauzi, dan ulama lainnya sepakat akan dha’ifnya hadits ini. Oleh karenanya hadits ini bukan sekedar dha’if, melainkan juga mungkar. Dan kita tahu bahwasanya hadits-hadits tentang fadha’il a’mal, jika hendak diamalkan maka kedha’ifannya tidak boleh terlalu parah. Adapun hadits ini dha’ifnya parah dan disertai mungkarnya matannya.

Sebagian ulama seperti Ibnu ‘Athiyyah dalam tafsirnya mengatakan bahwasanya seseorang yang membaca surah Al-Waqi’ah, kemudian dia mendalami dan merenungi isinya, maka dia akan disibukkan untuk menyiapkan diri untuk bertemu hari tersebut, sehingga dia tidak merasakan kemiskinan yang dia rasakan. Kalau pada hakikatnya dia miskin maka dia tidak akan peduli, karena dia akan menyibukkan dirinya untuk persiapan bertemu dengan hari kiamat (hari akhir). Dari sini Ibnu ‘Athiyyah seakan-akan berusaha memaknai hadits dha’if ini dengan makna yang abstrak([3]).

Surah Al-Waqi’ah adalah surah Makkiyah, yaitu surah yang turun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berhijrah ke kota Madinah. Secara umum, ayat pertama hingga ayat terakhir dari surah Al-Waqi’ah adalah Makkiyah. Akan tetapi ada beberapa ayat yang diperselisihkan oleh para ulama, bahwa beberapa dari ayat Al-Waqi’ah tersebut merupakan Madaniyah. Akan tetapi secara umum seluruh ayat dari surah Al-Waqi’ah adalah Makkiyah, karena nuansa surah-surah Makkiyah biasanya berbicara tentang tiga perkara; hari kiamat, kerasulan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Alquran, yang audiensnya tatkala itu adalah orang-orang musyrikin yang mereka mengingkari tiga perkara ini. Dan kalau kita telaah tentang surah Al-Waqi’ah ini maka kita akan dapati bahwa yang Allah Subhanahu wa ta’ala bahas dalam surah ini adalah tentang hari kiamat.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِذا وَقَعَتِ الْواقِعَةُ

“Apabila terjadi hari kiamat.” (QS. Al-Waqi’ah : 1)

Secara bahasa, kata الْواقِعَةُ artinya adalah terjadi karena dia berasal dari isim fa’il وَقَعَ yang artinya terjadi. Ada beberapa pendapat para Ahli Tafsir tentang mengapa Allah Subhanahu wa ta’ala menamakan hari kiamat dengan Al-Waqi’ah. Pendapat pertama mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menamakan hari kiamat dengan “suatu yang terjadi” untuk menjelaskan bahwasanya hari kiamat itu pasti terjadi. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ

Dan sungguh, hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.” (QS. Al-Hajj : 7)

Pendapat kedua mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menggunakan kata Al-Waqi’ah (terjadi) karena akan ada banyak kejadian dahsyat yang akan terjadi pada hari tersebut. Semua yang terjadi pada hari kiamat adalah peristiwa yang dahsyat, mulai dari ketika manusia dibangkitkan, lalu dikumpulkan dalam kondisi tidak berpakaian dan tidak beralas kaki, kemudian hisab, mizan, sirath, surga dan neraka, semua ini adalah peristiwa yang dahsyat. Maka karena begitu banyaknya peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah hari kiamat, maka dikatakanlah hari kiamat dengan Al-Waqi’ah, yaitu hari yang penuh dengan kejadian([4]).

Kita telah ketahui bersama bahwa hari kiamat memiliki banyak nama, dan nama-nama tersebut akan menggambarkan sifat dari sifat-sifat hari kiamat. Contohnya, hari kiamat disebut dengan Yaumul Akhir (hari terakhir), artinya tidak ada lagi hari setelah hari itu karena setelah itu maka semua akan abadi. Berbeda ketika kita berkata tentang dunia, maka kita akan mengatakan bahwa kehidupan hari ini akan berakhir, yaitu ketika matahari terbenam, maka esok hari akan muncul hari yang baru. Adapun hari kiamat dikatakan sebagai Yaumul Akhir karena tidak ada lagi hari yang baru setelahnya, karena matahari dan bulan tidak lagi ada waktu itu, dan keduanya dilemparkan ke dalam neraka Jahannam. Contoh lain, hari kiamat disebut dengan Yaumul Qiyamah (hari berdiri), artinya manusia tatkala dibangkitkan pada hari kiamat akan berdiri dan tidak ada yang duduk apalagi berbaring. Semua manusia pada hari itu berdiri ketakutan, mata mereka terbelalak, jantung mereka terangkat hingga ke kerongkongan menanti kedatangan Rabb semesta Alam. Contoh lain, hari kiamat disebut juga dengan Ath-Thammah (malapetaka), artinya pada hari itu semuanya akan ditimpa malapetaka dan tidak ada seorang pun yang terhindar dari malapetaka tersebut. Contoh lain, hari kiamat juga disebut dengan Ash-Shakhkhah (hari ditiupnya sangkakala), artinya adalah pada hari itu akan ditiupkan sangkakala dengan suara yang sangat keras, sehingga suara yang masuk ke dalam telling-telinga manusia membuat mereka takut. Contoh lain, hari kiamat juga disebut dengan Al-Qari’ah (ketukan dengan keras), artinya adalah hari kiamat akan mengetuk hati manusia untuk dimasukkan rasa takut yang luar biasa. Dan masih banyak nama-nama hari kiamat yang lain, di antaranya adalah nama surah yang kita bahwa yaitu Al-Waqi’ah yang artinya pasti terjadi atau banyaknya peristiwa dahsyat yang terjadi.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَيْسَ لِوَقْعَتِها كاذِبَةٌ

“Terjadinya (hari kiamat) tidak dapat didustakan (disangkal).” (QS. Al-Waqi’ah : 2)

Ada dua tafsiran secara umum tentang ayat ini. Tafsiran pertama, yaitu hari kiamat pasti terjadi. Tafsiran kedua, yaitu orang-orang yang kufur dan ragu terhadap adanya hari kiamat kelak akan menyaksikan hari kiamat tersebut, dan tatkala mereka menyaksikan hari tersebut maka mereka akan beriman dengan hari kiamat. Artinya mereka tidak lagi mendustakan hari kiamat, baik itu para pendusta, orang Ateis, dan orang kafir lainnya. Akan tetapi sedikit pun tidak bermanfaat iman mereka sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا

Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu, atau sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu.” (QS. Al-An’am : 158) ([5])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman

خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ

“(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).” (QS. Al-Waqi’ah : 3)

Apa maksud dari hari kiamat akan merendahkan dan meninggikan? Banyak Ahli Tafsir mengatakan bahwa ada orang-orang yang tatkala di dunia dia tinggi, hebat, dan dihormati, maka pada hari kiamat dia akan dihinakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan ada orang yang di dunia dahulu dia rendah, dan bahkan dihinakan oleh manusia, akan tetapi pada hari kiamat dia akan dimuliakan (diangkat) oleh Allah Subhanahu wa ta’ala([6]).

Peristiwa hari kiamat ternyata akan membongkar hakikat manusia yang sesungguhnya. Ketahuilah bahwa kita di dunia ini tidak menggunakan barometer yang sesungguhnya dalam menentukan mulia atau hinanya seseorang. Seringnya kita menilai seseorang dari hartanya, dari jabatannya, dari nasabnya, sehingga dengan barometer itu kita mengangkat seseorang dan merendahkan orang yang lain, kita menghormati sebagian orang dan menghinakan sebagian yang lain. Tidak jarang tatkala seseorang memiliki jabatan yang tinggi, maka semua orang takut kepadanya, semua orang menghormatinya, bahkan semua orang berharap mendapatkan pemberian darinya. Akan tetapi tatkala melihat orang yang tidak punya apa-apa dari sisi dunia, maka semua orang menghinakannya dan merendahkannya. Ketahuilah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Shahih Al-Bukhari yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d, dia berkata,

مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لرَجُلٍ عِنْدَهُ جَالِسٍ: مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا؟ فَقَالَ: رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ، هَذَا وَاللَّهِ حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ، قَالَ: فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخَرُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا؟ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ المُسْلِمِينَ، هَذَا حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لاَ يُنْكَحَ، وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لاَ يُشَفَّعَ، وَإِنْ قَالَ أَنْ لاَ يُسْمَعَ لِقَوْلِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الأَرْضِ مِثْلَ هَذَا

Ada seorang laki-laki melintasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas Nabi bersabda kepada orang yang duduk di dekat beliau, ‘Apa pendapat kalian dengan laki-laki ini?’ Maka seorang menjawab, ‘Dia termasuk orang-orang yang mulia. Demi Allah, apabila dia meminang, pasti akan diterima, dan bila dimintai bantuan pasti akan dibantu’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam. Beberapa saat kemudian, lewatlah seorang laki-laki lain, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, ‘Apa pendapatmu dengan orang ini?’ Dia menjawab; ‘Wahai Rasulullah, menurutku orang ini adalah orang termiskin dari kalangan kaum Muslimin, apabila ia meminang pasti pinangannya ditolak, dan jika dimintai pertolongan dia tidak akan ditolong, dan apabila berkata, maka perkataannya tidak akan didengar’. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh orang ini (yang terlihat miskin) lebih baik daripada seluruh bumi yang isinya orang ini (yang kelihatannya bangsawan)’.”([7])

Oleh karena itu wahai saudaraku, kalau Anda di dunia dihormati orang banyak maka janganlah teperdaya. Ketahuilah bahwa penghormatan itu atas dasar barometer manusia, bukan barometer yang sesungguhnya. Sebanyak apapun orang yang menghormati Anda, belum tentu Anda baik di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya, jika ternyata Anda adalah orang yang tampaknya hina di mata manusia, belum tentu Anda hina di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Mulia atau tidaknya seorang hamba hanya akan terlihat ketika di hari kiamat. Maka meskipun Anda dihinakan oleh banyak orang, selama Anda bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah, maka Anda akan sangat tinggi derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah).” (QS. Al-‘Alaq : 19)

Pernah dalam sebuah hadits, Ibnu ‘Abbas berkata kepada ‘Atha bin Abi Rabbah. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: هَذِهِ المَرْأَةُ السَّوْدَاءُ، أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: إِنِّي أُصْرَعُ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي، قَالَ: إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الجَنَّةُ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ» فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، فَقَالَتْ: إِنِّي أَتَكَشَّفُ، فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ، فَدَعَا لَهَا

Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk surga?” ‘Atha menjawab, ‘Tentu’. Ibnu ‘Abbas berkata, ‘Wanita berkulit hitam ini (dialah wanita penghuni surga), dia pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata: Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku. Beliau bersabda: Jika kamu berkenan, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu berkenan maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu. Wanita itu berkata: Baiklah aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi: Namun berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap. Maka beliau mendoakan untuknya’.” (Muttafaqun ‘alaih)([8])

Sebagian orang mungkin tidak tertarik dengan wanita yang berkulit hitam, akan tetapi Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa wanita yang dimaksud adalah wanita penghuni surga. Sebagian para wanita terkadang teperdaya dengan kecantikan, sehingga tatkala mereka melihat wanita yang kurang cantik dan kurang bersih, maka mereka pun meremehkan dan menghinanya. Ketahuilah wahai para wanita, bahwa itu hanyalah barometer Anda di dunia, adapun barometer Allah berbeda. Sesungguhnya barometer kemuliaan seseorang adalah ketakwaannya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat : 13)

Bisa jadi orang yang ada di hadapan kita dengan pekerjaannya yang sangat biasa, paras wajahnya juga biasa, bahkan mungkin hartanya tidak ada, ternyata mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka barangsiapa yang dihormati di dunia jangan teperdaya, dan siapa yang dihinakan di dunia oleh manusia janganlah terlalu bersedih, karena hakikat manusia hanya akan tampak ketika manusia telah dikumpulkan di akhirat.

Tafsir yang lain dari خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (Merendahkan dan Meninggikan) adalah perubahan kondisi alam, yang tatkala itu karena sebab gempa yang dahsyat maka sebagian benda-benda di bumi yang di bawah menjadi naik ke atas, dan sebaliknya yang di atas jadi turun ke bawah([9])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا

“Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (QS. Al-Waqi’ah : 4)

Kalimat رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا artinya adalah bumi diguncangkan dengan disertai suara. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

الرَّجَّةُ الْحَرَكَةُ الشَّدِيدَةُ يُسْمَعُ لَهَا صَوْتٌ

Ar-Rajjah adalah guncangan yang sangat keras sampai terdengar suara.”([10])

Gempa di dunia saja sering disertai suara yang menakutkan. Penulis pernah bertemu dengan beberapa saudara kita yang mengalami gempa di beberapa tempat, mereka menyatakan bahwa gempa tidak hanya gerakan tanpa suara, akan tetapi pada gempa tersebut mengeluarkan suara. Seperti ketika penulis bertemu dengan saudara kita yang ada di Lombok, mereka mengatakan bahwa saat gempa terjadi, mereka mendengar suara yang sangat menakutkan bagi mereka. Maka jika gempa di dunia saja telah tampak mengerikan itu seperti itu, maka bagaimana lagi tatkala gempa yang terjadi ketika hari kiamat kelak? Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sungguh guncangan (hari) Kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar (dahsyat).” (QS. Al-Hajj : 1)

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا

“Dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah : 5)

Kata بَسًّا diambil dari يُبَسُّ الدَّقِيقُ yaitu tepung yang dihancur-hancurkan sehalus-halusnya. Tepung yang hancur tersebut disebut dengan sawiq. Para Ahli Tafsir mengatakan bahwa ada sejenis makanan sawiq yang namanya adalah الْبَسِيسَةُ Al-Basisah, yaitu tepung yang sudah dihancurkan dengan sehalus-halusnya, kemudian dicampur minyak lalu dimakan([11]). Artinya adalah gunung pada hari kiamat akan dihancurkan sehancur-hancurnya, sampai gunung tersebut menjadi halus seperti tepung.

Sebagaimana kita ketahui bahwa gunung pada hari kiamat akan mengalami beberapa proses. Pertama, gunung akan dicabut dari pasaknya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْ

Dan apabila gunung-gunung dicabut dari pasaknya.” (QS. Al-Mursalat : 10)

Kedua, gunung-gunung akan diperjalankan (diterbangkan) oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah : 5)

Gunung yang semulanya sangat kokoh, namun pada hari kiamat menjadi sangat ringan pada hari kiamat, dan diibaratkan gunung-gunung ketika itu seperti bulu atau kain wol yang diterbangkan.

Ketiga, gunung-gunung saling ditabrakkan sehingga hancur lebur, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam ayat ini,

وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا

Dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Waqi’ah : 5)

Maka setelah dihancurkan, gunung-gunung seakan-akan menjadi hal yang seakan-akan tidak pernah ada. Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’ : 20)

Sebagian ulama mengatakan bahwa alasan mengapa Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang gunung, yaitu karena gunung adalah makhluk Allah Subhanahu wa ta’ala yang tidak pernah berubah. Artinya sebuah gunung akan tampak tetap sama meskipun telah datang beberapa generasi. Kakek kita melihat suatu gunung dengan kondisinya seperti itu, kita saat ini melihat gunung juga sama seperti dahulu, dan cicit kita pun kelak akan melihat kondisi gunung sebagaimana kita melihatnya. Bahkan betapa sering kita mengumpamakan seseorang yang tegar dan kokoh dengan gunug. Maka sebagian ulama menyebutkan bahwa Allah membawakan perumpamaan gunung yang tidak berubah meskipun telah datang beberapa generasi, akan tetapi pada hari kiamat dia akan hancur seperti tepung yang sangat halus.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا

“Maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al-Waqi’ah : 6)

Kata هَبَاءً (debu) dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna. Makna pertama yaitu debu-debu yang bertaburan di sekitar kuda yang sedang berlari. Makna kedua yaitu seperti debu-debu kecil yang tampak di dalam rumah kita tatkala terkena sinar matahari pagi, dan jika tidak ada celah bagi matahari untuk menyinari maka kita tidak bisa melihat debu-debu tersebut karena saking kecilnya. Makna ketiga yaitu seperti percikan-percikan api tatkala api pertama kali dinyalakan. Makna keempat yaitu yang ikut beterbangan bersama daun-daun ketika ada angin yang menerpa. Intinya, itu adalah gambaran yang sangat kecil. Maka gunung yang kita lihat saat ini sangat kokoh, maka pada hari kiamat kelak akan dihancurkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sampai hancurnya benar-benar sempurna seperti debu-debu kecil yang bertebaran([12]).

Hal ini tentu menggambarkan akan dahsyatnya hari kiamat. Bukan lagi mobil, rumah, atau pohon yang hancur, akan tetapi gunung-gununglah yang ditabrakkan dengan sangat keras sampai-sampai hancurnya menjadi seperti debu-debu yang beterbangan.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً

“Dan kalian (manusia) menjadi tiga golongan.” (QS. Al-Waqi’ah : 7)

Setelah Allah Subhanahu wa ta’ala menggambarkan dahsyatnya hari kiamat tersebut, maka Allah kemudian menyebutkan bahwa pada hari itu manusia menjadi tiga kelompok. Inilah gambaran secara global tentang kondisi manusia pada hari kiamat kelak. ([13])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ، وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ، وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ

Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu, dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu, dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga).” (QS. Al-Waqi’ah : 8-10)

Tiga kelompok manusia yang Allah Subhanahu wa ta’ala maksud adalah,

  1. Golongan kanan. Mereka disebut golongan kanan karena mereka mendapat buku catatan amal mereka dengan tangan kanan, dan mereka dikumpulkan di sebelah kanan untuk berjalan menuju surga
  2. Golongan kiri. Mereka disebut golongan kiri karena mereka mendapat buku catatan amal mereka dengan tangan kiri sebagai bentuk Allah Subhanahu wa ta’ala menghinakan mereka, dan mereka dikumpulkan di sebelah kiri dan digiring menuju neraka Jahannam.
  3. Golongan orang-orang yang dahulu masuk surga.([14])

Secara umum golongan manusia pada hari kiamat menjadi dua, yaitu penghuni surga dan penghuni neraka. Penghuni neraka disebut dengan Ashaabu al-Masy’amah (golongan kiri). Adapun penghuni surga terbagi menjadi dua tingkatan, tingkatan pertama adalah As-Saabiquun (yang mendahului), dan tingkatan kedua adalah Ashabul Maimanah (golongan kanan). Pada dasarnya, baik neraka maupun surga itu bertingkat-tingkat. Bahkan dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ فِي الجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

Sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat (kedudukan) yang Allah menyediakannya buat para mujahid di jalan Allah, dimana jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi.”([15])

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa hal ini -yaitu tingkatan surga- juga berlaku pada ibadah yang lain([16]), seperti shalat, sedekah, dakwah, dan yang lainnya. Hal ini karena Allah Subhanahu wa ta’ala detail dalam mengklasifikasikan hamba-hamba-Nya. Akan tetapi secara umum, seluruh penghuni surga bisa dibagi menjadi dua, yaitu As-Saabiquun dan Ashabul Maimanah.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ، فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ، ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ، وَقَلِيلٌ مِنَ الْآخِرِينَ

“Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan, segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al-Waqi’ah : 11-14)

Yang Allah Subhanahu wa ta’ala maksud dalam ayat ini yaitu golongan As-Saabiquun (orang yang lebih dahulu), dan Allah menjelaskan tentang golongan ini pertama kali karena golongan ini merupakan golongan yang paling tinggi.([17])

Kata السَّابِقُونَ berasal dari kata السَّبق yang artinya mendahului, seperti seseorang sampai pada suatu tempat sebelumnya yang lainnya sehingga menunjukkan bahwa dia adalah orang yang pertama. Makna ini dibawa kepada makna bersegera dalam melaksanakan amal saleh, seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah : 100)

Kemudian juga seperti firman Allah dalam ayat yang lain,

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” (QS. Al-Mu’minun : 61)([18])

Oleh karenanya ketika Allah Subhanahu wa ta’ala telah berbicara tentang amal saleh, maka semuanya diperintahkan untuk bersegera. Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali-‘Imran : 133)

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah : 148)

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Dan untuk yang demikian itu (surga) hendaknya orang-orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin : 26)

Intinya, As-Saabiquun adalah orang yang cepat (paling bersegera) dalam mengerjakan ibadah. Kalau dalam hal sedekah maka dialah orang yang paling cepat bersedekah, kalau berjihad maka dialah orang yang paling semangat berjihad([19]). Lihatlah kisah Hanzhalah Ibnu Abi ‘Amir radhiallahu ‘anhu, yang tatkala dia baru saja menikah (malam pengantin) dan menggauli istrinya, kemudian tiba-tiba ada panggilan jihad, maka dia pun berangkat sebelum mandi junub karena saking semangatnya. Ternyata dalam perang Uhud dia meninggal dunia, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para malaikat memandikannya (karena masih junub). Oleh karenanya ketika kita ternyata paling terlambat datang ke Masjid, datang ke pengajian selalu dapat tempat duduk paling belakang, sedekah paling telat, berbakti kepada orang tua paling terakhir, maka bisa dipastikan kita bukanlah termasuk orang yang As-Saabiquun, karena konsekuensi dari predikat ini adalah orang tersebut selalu cepat dalam segala kebaikan selama dia mampu. Maka selama seseorang memiliki kemampuan dan bisa melaksanakan kebaikan tersebut dengan cepat (segera) maka semoga itu merupakan indikasi bahwa ia  termasuk golongan As-Saabiquun yang merupakan derajat paling tinggi di surga. Akan tetapi jika ternyata seseorang selalu terlambat, meskipun tidak mendapat derajat As-Saabiquun, maka semoga ia tetap masuk dalam golongan Ashabul Maimanah (golongan kanan).

Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang Dia berikan kepada golongan As-Saabiquun. Di antara yang Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan adalah kebanyakan orang-orang yang termasuk dalam golongan As-Saabiquun adalah orang-orang terdahulu, dan sedikit dari orang-orang belakangan. Terdapat khilaf di kalangan para ulama tentang maksud hal ini.

Pendapat pertama mengatakan bahwa maksudnya adalah yang tergolong As-Saabiquun adalah kumpulan dari orang-orang yang terpilih dari masing-masing dari seluruh umat para nabi.([20]). Dan sebagaimana diketahui bahwasanya para nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam banyak, dan umat mereka juga banyak, sehingga dengan demikian tentu umat Nabi Muhammad yang termasuk dalam as-Saabquun tidaklah banyak karena hanya merupakan bagian dari kumpulan orang-orang terpilih dari seluruh umat para nabi.([21])

Pendapat kedua mengatakan bahwa ayat ini hanya berkaitan dengan umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja, yaitu yang menjadi golongan terbanyak dari As-Saabiquun adalah para as-salafu as-salih (yaitu generasi awal yang shalih, seperti sahabat, tabiín dan para tabi’ at-tabiín), adapun yang sedikit adalah umat setelah para as-Salaf([22]). Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik ummatku adalah yang orang-orang hidup pada zamanku (generasiku), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka.”([23])

Tentunya kita sangat paham akan hal ini, bahwa kita sekarang hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Bahkan kita sendiri menyadari bahwa betapa banyak kita melakukan maksiat dengan memandang hal-hal yang haram, mendengar yang haram, dan malas beribadah. Maka jika dibandingkan dengan para as-Salaf tentu sangat jauh berbeda. Oleh karena itu, wajar jika para as-Salaf disebut sebagai golongan terbanyak dari As-Saabiquun. Pendapat kedua ini dipilih oleh Ibnu Katsir rahimahullah([24]), dan penulis lebih condong bahwa pendapat kedua ini lebih kuat.

Pendapat ketiga mengatakan bahwa ayat ini mencakup seluruh manusia. Dan yang menjadi As-Saabiquun adalah generasi pertama dari masing-masing dari para Nabi dan Rasul.([25])

Maka pertanyaannya adalah, apakah kita masih mungkin menjadi golongan As-Saabiquun? Tentu masih ada kemungkinan, akan tetapi kemungkinannya kecil karena Allah Subhanahu wa ta’ala mengatakan bahwa hanya sedikit dari yang belakangan.

ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ، وَقَلِيلٌ مِنَ الْآخِرِينَ

“Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al-Waqi’ah : 11-14)

Dan tentunya kita sadar bahwa kita sangat jauh jika dibandingkan dengan para ulama terdahulu. Hubungan kita dengan orang tua terkadang tidak beres, hubungan sama istri terkadang kurang baik, kurang perhatian terhadap anak, bahkan hubungan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala pun seringnya tidak bagus. Lantas apa yang bisa kita andalkan untuk menjadi As-Saabiquun?

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

عَلَى سُرُرٍ مَوْضُونَةٍ، مُتَّكِئِينَ عَلَيْهَا مُتَقَابِلِينَ

“Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata, mereka bersandar di atasnya berhadap-hadapan.” (QS. Al-Waqi’ah : 15-16)

Di antara kenikmatan yang Allah juga sediakan bagi As-Saabiquun adalah dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata. Kata سُرُرٍ ditafsirkan oleh sebagian ulama seperti Thahir Ibnu ‘Asyur dengan jamak dari kata سَرِيْر yang artinya kursi yang luas dan bisa diduduki oleh seseorang dengan menjulurkan kakinya, dan kursi tersebut biasanya dimiliki oleh raja-raja dan orang-orang kaya. Tentunya سُرُرٍ berbeda dengan الْأَرَائِكِ yang Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam ayat lain sebagai nikmat bagi penghuni surga, karena الْأَرَائِكِ merupakan jamak dari الْأَرِيْكَةْ yang artinya tempat tidur yang telah dihiasi dengan perhiasan-perhiasan yang luar biasa. Oleh karenanya ini menunjukkan bahwa di surga terdapat tempat duduk dan tempat tidur. Adapun kata مَوْضُونَةٍ, banyak ahli tafsir mengatakan bahwa maknanya adalah kursi tersebut dipilin dari kayu-kayu yang terbuat dari emas.

Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang As-Saabiquun tersebut akan bersandar di atas dipan-dipan tersebut dan saling berhadap-hadapan. Dan kita tahu bahwa مُتَّكِئِينَ adalah kondisi seseorang antara duduk dan tidur, dengan meletakkan siku dan kemudian bersandar. Ini menunjukkan bahwa mereka berada dalam kondisi sehat dan sedang dilayani. Dan demikianlah kondisi para raja yang sedang duduk menikmati pandangan di hadapan mereka. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala juga menyebutkan bahwa mereka saling berhadap-hadapan. ([26]) Tentunya ini menunjukkan adab yang mulia tatkala di surga, dimana seseorang berbicara dengan saling berhadap-hadapan. Maka dengan kondisi tersebut, mereka saling berbicara satu sama lain, berbicara dengan keluarga dan kawan-kawannya, bahkan berbicara dengan bidadari([27]). Tentunya ini menunjukkan kebahagiaan yang luar biasa, karena berbeda halnya jika kita berbicara kepada seseorang, namun orang tersebut melihat ke kanan dan ke kiri, kita seakan-akan tidak dihargai.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda.” (QS. Al-Waqi’ah : 17)

Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan pelayan yang khusus untuk melayani para penghuni surga. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan وِلْدَانٌ artinya pelayan tersebut selalu muda dan tidak pernah tua. Pada ayat yang lain Allah menyebutkan hal serupa dengan lafal غِلْمَانٌ sebagaimana dalam firman-Nya,

وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَكْنُونٌ

Dan di sekitar mereka ada anak-anak muda yang berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.” (QS. Ath-Thur : 24)

Artinya, pelayan-pelayan tersebut tidak hanya kekal abadi di surga, akan tetapi kekal dalam bentuk jasad mereka yang masih terus muda. Dan ini menunjukkan kesempurnaan dalam pelayanan([28]). Karena kita tahu bahwa pelayan yang masih muda atau masih anak-anak maka kita akan melihat giatnya mereka dalam melayani, sebagaimana halnya kita melihat anak-anak kita yang bermain tidak kenal lelah. Kemudian tatkala kita suruh pun maka tentu tidak ada rasa segan, berbeda halnya jika pelayan tersebut adalah orang yang tua, maka pasti ada rasa malu jika harus menyuruh-nyuruhnya.

Maka kenikmatan yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan dengan adanya pelayan-pelayan tersebut dari dua sisi, pertama adalah karena giatnya pelayan-pelayan tersebut, dan kedua adalah nikmatnya memandang pelayan-pelayan tersebut yang menyenangkan untuk dipandang, karena Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan mereka dalam kondisi selalu muda. Dan disebutkan bahwa pelayan-pelayan tersebut senantiasa berkeliling dan siap untuk melayani. Tidak kemudian mereka berhenti dan menunggu panggilan untuk melayani. ([29])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ

“Dengan membawa gelas, cerek berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir.” (QS. Al-Waqi’ah : 18)

أَكْوَاب adalah gelas tanpa ada pegangan dan lubang khusus untuk mengeluarkan air darinya. Adapun أَبَارِيْق merupakan jamak dari kata إِبْرِيْق yang artinya adalah tempat seperti cerek. Adapun كَأْس hampir sama dengan أَكْوَاب, namun bagian atasnya mengecil, akan tetapi tidaklah dikatakan gelas itu sebagai كَأْس kalau belum terisi penuh dengan khamr. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa air (khamr) tersebut diambil dari mata air yang mengalir. Artinya adalah khamr yang ada di surga kelak itu banyak. Tidak sebagaimana di dunia yang jumlahnya sedikit, dan untuk mendapatkannya pun mahal. Di sebutkan bahwa di surga, mata airnya adalah khamr, bahkan lebih daripada itu terdapat sungai khamr, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya segar, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamr (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong?” (QS. Muhammad : 15)

Jadi, khamr diambil oleh pelayan-pelayan tersebut, kemudian disiapkan dan dihindangkan kepada penghuni surga yang merupakan As-Saabiquun. ([30])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُونَ

“Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk.” (QS. Al-Waqi’ah : 19)

Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa sifat khamr di surga tidak akan membuat yang meminumnya pusing. Tidak sebagaimana di dunia, orang yang meminum khamr di dunia maka akan pusing dan mabuk([31]). Kata يُنْزِفُونَ maknanya adalah hilangnya akal, artinya penghuni surga yang meminum khamr di surga tidak akan kehilangan akal, tidak bingung, dan semacamnya.([32])

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

مَنْ شَرِبَ الخَمْرَ فِي الدُّنْيَا، ثُمَّ لَمْ يَتُبْ مِنْهَا، حُرِمَهَا فِي الآخِرَةِ

Barangsiapa meminum khamr di dunia dan tidak bertaubat, maka akan diharamkan baginya di akhirat kelak.” (Muttafaqun ‘alaih)([33])

Oleh karena itu, seseorang harus menjaga dirinya jangan sampai meminum khamr di dunia. Sesungguhnya khamr adalah minuman terlezat yang ada di dunia, akan tetapi ganjaran bagi orang yang meminumnya di dunia dan tidak bertaubat dari itu, maka dia tidak akan dapat minum khamr di akhirat yang artinya dia bukanlah penghuni surga, karena penghuni surga minumannya adalah khamr.([34])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ

“Dan buah-buahan apa pun yang mereka pilih.” (QS. Al-Waqi’ah : 20)

Di antara kenikmatan yang Allah berikan kepada orang-orang As-Saabiquun adalah buah-buahan yang bebas mereka pilih. Bagi orang yang paham bahasa Arab, tentu mereka akan paham perbedaan antara kata يَخْتَارُوْن dan يَتَخَيَّرُونَ, karena kata يَتَخَيَّرُونَ menunjukkan bahwa mereka benar-benar berlezat-lezat dalam memilih. Buah di surga sangat banyak, sehingga mereka menikmati dalam perihal memilih buah tersebut.([35])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

“Dan daging burung apa pun yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waqi’ah : 21)

Disebutkan dalam sebagian atsar bahwa tatkala penghuni surga melihat burung-burung terbang, kemudian mereka ingin memakan burung tersebut, maka burung tersebut jatuh dan berada di atas piring di hadapan mereka, dan dalam kondisi yang mereka kehendaki seperti dipanggang, digoreng, atau direbus.([36])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَحُورٌ عِينٌ، كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

“Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al-Waqi’ah : 22-23)

Di antara kenikmatan yang disediakan bagi As-Saabiquun adalah bidadari yang bermata indah. Sebagian menafsirkan bahwa bidadari tersebut disebut dengan حُورٌ عِينٌ karena lentiknya mata mereka dan menarik perhatian([37]). Dan tidak perlu kita jauh berbicara dengan mata bidadari, terkadang sebagian mata wanita di dunia saja sudah sangat menggoda bahkan meskipun mereka menggunakan cadar.

Saking indahnya bidadari tersebut, Allah Subhanahu wa ta’ala mengumpamakan mereka seperti mutiara yang tersimpan. Para ulama mengatakan bahwa maksud dari seperti mutiara yang tersimpan adalah bahwa bidadari tersebut belum pernah ada yang menyentuhnya. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah bidadari tersebut belum pernah ada makhluk Allah yang melihatnya. Sehingga tatkala bidadari tersebut dipersembahkan untuk penghuni surga, maka akan tampak bidadari tersebut bersih dan putih seperti mutiara yang tersimpan. Demikianlah sifat bidadari yang disiapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala bagi As-Saabiquun.([38])

Kita manusia tentunya selalu ingin sesuatu yang spesial termasuk dalam hal wanita. Adapun jika wanita tersebut semua orang dapat melihatnya, semua orang bisa menyentuhnya, maka bagaimana mungkin dia bisa mulia? Sampai-sampai sebagian daerah mengatakan tentang ini bahwa ada wanita-wanita yang bis kota, yaitu mereka seperti bis yang setiap orang bisa naik. Kalau sudah demikian seorang wanita, maka siapa yang ingin wanita seperti itu? Karena pada hakikatnya laki-laki senantiasa ingin wanita yang mulia, terjaga, belum ada laki-laki yang haram menyentuhnya, bahkan mungkin kita ingin bahwa wanita tersebut belum ada yang pernah melihatnya.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Waqi’ah : 24)

Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwasanya kenikmatan-kenikmatan yang Allah sebutkan tersebut dibagi secara detail berdasarkan amalan masing-masing orang, sehingga yang menjadi barometer tingkatan seseorang di surga adalah amalannya. Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala tidak asal-asalan dalam memberikan kenikmatan bagi seorang hamba di surga, karena dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa mereka mendapatkan kenikmatan tersebut sebagai balasan atas amal yang mereka kerjakan([39]). Maka dari itu setiap dari kita sadar diri bahwa jika kita ingin untuk mendapatkan surga yang tinggi maka kita harus semangat melakukan amalan-amalan, baik amalan batin ataupun amalan zahir, karena surga tidak bisa diraih dengan angan-angan dan impian, dan tingkatan seseorang di surga tergantung amalannya di dunia. Oleh karenanya penulis sering sampaikan pula bahwa satu pandangan/lirikan mata kita di dunia ini memengaruhi derajat kita di surga, yaitu dengan melepaskan atau menundukkan pandangan maka akan memengaruhi derajat kita di surga atau di neraka, karena timbangan Allah Subhanahu wa ta’ala sangat detail. Seseorang yang menundukkan pandangan dari hal yang diharamkan tentu surganya tidak akan sama dengan orang yang melepaskan dan mengumbar pandangannya dan melihat apa saja yang ingin dia lihat. Maka ketahuilah bahwa ayat ini menunjukkan Allah Subhanahu wa ta’ala sangat detail dan teliti dalam memberikan kenikmatan-kenikmatan dan tingkatan-tingkatan bagi penghuni surga, berdasarkan amalan yang dilakukan oleh seseorang selama di dunia.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا

“Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia maupun yang menimbulkan dosa.” (QS. Al-Waqi’ah : 25)

Selain Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan kenikmatan kepada penghuni surga berupa makanan, tempat duduk yang indah, pelayan-pelayan dan bidadari, ternyata Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan pula kenikmatan bagi mereka yaitu kenikmatan dalam berbicara. Kenikmatan tersebut berupa tidak adanya perkataan-perkataan yang sia-sia di surga.([40])

Di surga, tidak ada kata-kata yang menusuk lagi menyakitkan, tidak ada ghibah, tidak ada namimah, seluruh perkataan di surga membuat senang. Tidak sebagaimana kita di dunia, betapa banyak kata-kata yang kita dengar dan ucapkan dapat menyakitkan hati kita maupun hati orang lain. Di dunia, betapa banyak kata-kata yang merendahkan, menyindir, bahkan ada banyak kata-kata yang menunjukkan kesombongan. Terkadang  dalam lingkungan keluarga, antara suami dan istri juga tidak jarang ada kata-kata yang menyakitkan hati satu sama lain, antara anak dan orang tua juga terkadang ada kata-kata yang menyakitkan. Bahkan tatkala kita melihat komentar-komentar orang di media sosial, kita akan melihat beragam bentuk kata yang tidak enak untuk dibaca. Akan tetapi di surga, seluruh bentuk kata-kata yang tidak menyenangkan tersebut tidak ada. Antara satu penghuni surga dengan penghuni lainnya akan senantiasa tersenyum tatkala mereka bertemu, tidak ada perkataan mereka yang sia-sia, atau yang menimbulkan dosa.([41])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِلَّا قِيلًا سَلَامًا

“Tetapi mereka mendengar ucapan salam (keselamatan).” (QS. Al-Waqi’ah : 26)

Ketika di surga tidak ada kata-kata yang sia-sia lagi mengandung dosa, ternyata yang ada adalah ucapan penghuni surga yang saling mendoakan keselamatan bagi orang yang ditemuinya.

Terdapat beberapa tafsiran tentang makna سَلَامًا. Tafsiran pertama, yaitu setiap orang akan mendengar ucapan “Engkau selamat”, karena di surga tidak ada lagi kata-kata yang bisa membuat dia sakit hati, tersinggung, dan yang lainnya. Tafsiran kedua, yaitu mereka penghuni surga saling bersalam-salaman dan saling mendoakan antara satu dengan yang lainnya, bahkan malaikat pun menyalami mereka([42]), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ، سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Dan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan), ‘Selamat atas kalian karena kesabaran kalian’. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d : 23-24)

Ini menunjukkan bahwa penghuni surga sangat dihargai dan dihormati, karena para malaikat pun disebutkan mengucapkan salam kepada mereka.([43])

Inilah deretan nikmat-nikmat yang Allah Subhanahu wa ta’ala peruntukkan orang golongan penghuni surga dengan tingkatan tertinggi, yaitu As-Saabiquun.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ، فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ

“Dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. (Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri.” (QS. Al-Waqi’ah : 27-28)

Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala kemudian menyebutkan tentang derajat kedua dari derajat penghuni surga yaitu Ashabul Yamiin atau Ashabul Maimanah (golongan kanan).

Di antara kenikmatan yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan kepada penghuni surga Ashabul Yamiin ini adalah sidr yang tidak berduri. Di sini Allah Subhanahu wa ta’ala ingin menjelaskan bahwasanya sidr di akhirat berbeda dengan sidr di dunia. Sidr adalah pohon bidara. Sebagaimana kita ketahui bahwa sidr di dunia buahnya sedikit dan durinya banyak. Adapun sidr di akhirat kelak buahnya banyak dan tidak ada durinya, bahkan sebagian salaf mengatakan bahwa setiap tempat duri Allah jadikan buah. Tentunya kenikmatan ini menjelaskan kepada kita bahwasanya semua yang ada di dunia tidak dapat dibandingkan dengan apa yang ada di akhirat([44]). Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,

لَيْسَ فِي الدُّنْيَا مِمَّا فِي الْجَنَّةِ إِلَّا الْأَسْمَاءُ

Tidak sesuatu di dunia yang bisa dibandingkan dengan apa yang ada di surga kecuali hanya nama.”([45])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ، وَظِلٍّ مَمْدُودٍ

“Dan pohon “Tholh” yang bersusun-susun, dan naungan yang terbentang luas.” (QS. Al-Waqi’ah : 29-30)

طَلْحٍ adalah sebuah jenis pohon tertentu, dan terdapat khilaf di kalangan para ulama tentangnya. Ada yang mengatakan bahwa طَلْحٍ adalah pohon yang besar, dan ada yang mengatakan bahwa طَلْحٍ adalah pohon pisang([46]). Akan tetapi banyak ulama yang merajihkan bahwasanya طَلْحٍ bukanlah pohon pisang, karena pisang bukanlah tumbuhan di Jazirah Arab tatkala itu, padahal Allah Subhanahu wa ta’ala sedang berbicara dengan perkara-perkara yang dipahami oleh orang-orang kafir Quraisy. Oleh karenanya yang dimaksud dengan طَلْحٍ adalah tumbuhan spesial di Jazirah Arab tatkala itu, namun pohon ini tidak rapi, sehingga Allah menyebutkan bahwa di surga kelak tumbuhan tersebut akan tersusun rapi, rapi dengan batang-batangnya, rapi dengan daun-daunnya, atau rapi buah-buahannya. Adapun yang mengatakan bahwa طَلْحٍ adalah pisang, maka sebagian ulama lain menjelaskan bahwa kemungkinan maksud mereka adalah untuk menjelaskan bahwa pohon tersebut akan rapi di surga sebagaimana buah pisang yang tersusun rapi.([47])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَاءٍ مَسْكُوبٍ

“Dan air yang mengalir terus-menerus.” (QS. Al-Waqi’ah : 31)

Yaitu air yang ada di surga tersebut tidak terhalangi, melainkan tercurah dengan sangat melimpah ruah. Artinya penghuni surga tidak akan kekurangan air sama sekali.([48])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ، لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ

“Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya.” (QS. Al-Waqi’ah : 32-33)

Kata مَقْطُوعَةٍ artinya terputus, artinya adalah buah-buahan tersebut akan selalu ada tanpa mengenal musim. Tidak sebagaimana di dunia, sebagian ada buah yang hanya muncul di musim dingin, dan sebagian yang lain muncul pada musim panas, bahkan sebagian buah hanya muncul pada bulan-bulan tertentu saja. Akan tetapi buah-buahan di surga selalu ada setiap saat, dan selalu enak serta matang setiap saat. Tidak ada buah-buahan di surga yang mengalami proses pematangan, melainkan selalu langsung matang dan siap untuk disantap. Akan tetapi sekali lagi kita ingatkan bahwa nama boleh sama antara dunia dan surga, akan tetapi hakikatnya tentu berbeda, anggur di dunia tentu tidak sama dengan anggur di surga. ([49])

Adapun arti kata مَمْنُوعَةٍ adalah terhalangi. Artinya seseorang yang ingin buah-buahan di surga, maka dia tidak akan terhalangi dengan apapun untuk mendapatkannya. Penghuni surga tidak perlu berjalan menuju pohon yang dikehendakinya, lalu kemudian memanjatnya untuk mendapatkan buah yang diinginkan, akan tetapi semua buah yang dikehendaki akan datang dengan sendirinya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ

Buah-buahannya dekat.” (QS. Al-Haqqah : 23)

Seorang penghuni surga, meski dalam kondisi apapun buah yang diinginkan bisa datang dengan sendirinya. Baik dia dalam keadaan duduk maupun berbaring, maka buah yang diinginkannya akan datang sendiri, dahan akan turun dan mendekat kepadanya sehingga dia bisa makan sendiri tanpa harus bersusah payah.([50])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ

“Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.” (QS. Al-Waqi’ah : 34)

Terdapat khilaf di kalangan para ulama tentang makna فُرُشٍ dalam ayat ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa فُرُشٍ dalam ayat ini maksudnya adalah tempat tidur (kasur-kasur) yang ditinggikan dan penuh dengan keindahan. Pendapat kedua mengatakan bahwa فُرُشٍ dalam ayat ini adalah wanita-wanita dunia yang cantik jelita. Hal ini dikarenakan wanita dalam bahasa Arab dinamakan dengan لِبَاس (pakaian), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Mereka (istri-istri kalian) adalah pakaian bagi kalian, dan kalian (para suami) pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Demikian pula wanita juga disebut dengan إِزَرْ (sarung), sebagaimana perkataan seorang sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beliau diajak untuk berhijrah ke kota Madinah, dia berkata,

وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَنَمْنَعَنَّكَ مِمَّا نَمْنَعُ مِنْهُ أُزُرَنَا

Demi Dzat yang mengutus Anda dengan Al-Haq, sungguh kami akan mencegahmu dari segala gangguan sebagaimana kami mencegah segala gangguan yang mengancam istri-istri kami.”([51])

Dan terkadang dalam istri dalam bahasa Arab juga disebut dengan فِرَاشٌ (tempat tidur), karena kebiasaan wanita berada di tempat tidurnya, dan karena kedekatan seorang suami dengan istri sehingga menyebut istri mereka dengan فِرَاشٌ. Oleh karenanya sebagian Ahli Tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan فِرَاشٌ dalam ayat ini adalah wanita-wanita dunia yang masuk di surga. Pendapat ini didukung dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala pada ayat setelahnya yang menyebutkan,

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً

Kami ciptakan mereka secara langsung.” (QS. Al-Waqi’ah : 35)

Jika yang dimaksud dengan فُرُشٍ adalah wanita-wanita dunia yang masuk surga, maka ayat ini akan memberi pengertian bahwa wanita tersebut diangkat dalam artian akan disucikan, ditinggikan akhlaknya, dimuliakan, diperindah raut wajah mereka, dan yang lainnya. Adapun mengapa wanita-wanita tersebut mendapatkan keutamaan itu, maka firman Allah “Kami ciptakan mereka secara langsung” maksudnya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala yang merubah mereka dengan perubahan-perubahan tersebut. ([52])Oleh karenanya, sebagaimana dalam sebuah riwayat suatu ketika ada seorang nenek tua yang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ اُدْعُ اللهَ أَنْ يُدْخِلَنِيْ الْجَنَّةَ فَقَالَ: يَا أُمَّ فُلَانٍ إِنَّ الْجَنَّةَ لاَ تَدْخُلُهَا عَجُوْزٌ، قَالَ: فَوَلَّتْ تَبْكِيْ فَقَالَ: أَخْبِرُوْهَا أَنَّهَا لاَ تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوْزٌ، إن الله تعالى يقول: إِنَّا أَنْشَأْناهُنَّ إِنْشاءً فَجَعَلْناهُنَّ أَبْكاراً عُرُباً أَتْراباً

Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar memasukkanku ke surga. Beliau pun bersabda, Wahai ummu fulan, sungguh surga itu tidak dimasuki orang yang tua renta’. Al-Hasan berkata, lalu nenek itu pun berpaling sambil menangis. Kemudian Nabi saw. Bersabda: Kabarkanlah kepadanya, bahwa sesungguhnya ia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua renta, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya Kami menciptakan mereka secara langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya’.”([53])

Hal ini juga merupakan pendapat Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwasanya yang mengalami kehebatan bukan hanya bidadari, akan tetapi wanita-wanita salehah di dunia juga akan diubah oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan yang lebih cantik daripada di dunia.

Adapun jika فُرُشٍ ditafsirkan dengan kasur-kasur, maka para ulama mengatakan bahwa ini bisa ditafsirkan dengan kelaziman, yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan kasur-kasur tersebut tidak dalam keadaan kosong, melainkan Allah juga menyediakan yang menempati kasur tersebut, yaitu wanita-wanita yang dijadikan bidadari oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa wanita-wanita dunia yang masuk surga itu lebih utama dari pada bidadari([54]). Oleh karenanya penulis sering ingatkan kepada para wanita bahwa jika Anda ingin menjadi wanita mulia maka hendaknya bersabarlah selama di dunia ini, dengan demikian Anda akan menjadi ratu para bidadari tatkala di akhirat kelak. Dan banyak sekali lahan bagi Anda untuk bisa sabar di dunia ini, Anda bisa sabar dalam mengurus suami dan anak-anak, sabar menjaga diri, dan terlebih lagi sabar dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah meskipun sesungguhnya beban yang Allah berikan kepada Anda sangatlah berat, akan tetapi dengan kesabaran anda akan meraih balasan yang sangat besar, menjadi ratu para bidadari.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً، فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا

“Kami menciptakan mereka secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan.” (QS. Al-Waqi’ah : 35-36)

Pada Alquran terjemahan Indonesia, kebanyakan mengartikan ayat ini dengan bidadari-bidadari, padahal ayat ini bersifat umum, yaitu mencakup bidadari dan wanita-wanita dunia yang Allah Subhanahu wa ta’ala ubah rupa mereka. ([55])

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa semua wanita di surga, baik wanita-wanita dunia yang masuk surga atau bidadari-bidadari, mereka selalu dalam kondisi gadis (perawan). Setiap mereka digauli maka mereka selalu dalam kondisi perawan.([56])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

عُرُبًا أَتْرَابًا

“Yang penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waqi’ah : 37)

Kata عُرُبًا merupakan jamak dari kata عَرُوْب yang maknanya adalah seorang istri yang selalu menyenangkan suaminya dalam perkataannya. Ibnul Qayyim rahimahullah juga membawakan kata عُرُبًا dengan makna,

حُسْنِ مُوَاقَعَتِهَا وَمُلَاطَفَتِهَا لِزَوْجِهَا عِنْدَ الْجِمَاعِ

(Yaitu) wanita yang baik dalam berposisi dan lembut kepada suaminya tatkala disenggama.”([57])

Artinya adalah wanita tersebut pandai melayani tatkala berjima’ dengan suaminya.

Adapun kata أَتْرَابًا artinya adalah usia wanita-wanita yang masuk surga tersebut mirip-mirip.

Nabi shallallahu álaihi wasallam bersabda :

يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ جُرْدًا، مُرْدًا، بِيضًا، جِعَادًا، مُكَحَّلِينَ، أَبْنَاءَ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ، عَلَى خَلْقِ آدَمَ، سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي عَرْضِ سَبْعِ أَذْرُعٍ

“Penghuni surga memasuki surga dalam kondisi dalam kondisi tidak ada bulu tubuhnya dan tidak ada jenggotnya, berkulit putih dan padat berisi, dalam kondisi senantiasa muda, dengan usia 33 tahun, dengan tubuh seperti Nabi Adam ‘alaihis salam yaitu tingginya 60 hasta dengan lebar 7 hasta” ([58])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لِأَصْحَابِ الْيَمِينِ

“(nikmat tersebut) untuk golongan kanan.” (QS. Al-Waqi’ah : 38)

Beberapa deretan nikmat yang telah disebutkan setelah nikmat bagi As-Saabiquun adalah nikmat-nikmat bagi Ashabul Yamiin. Kenikmatan yang Allah sebutkan baik untuk As-Saabiquun maupun Ashabul Yamiin, tidak menunjukkan bahwa As-Saabiquun tidak mendapatkan nikmat yang didapatkan oleh Ashabul Yamiin dan Ashabul Yamiin tidak mendapatkan kenikmatan yang didapatkan oleh As-Saabiquun. Akan tetapi baik As-Saabiquun dan Ashabul Yamiin tetap mendapatkan kenikmatan-kenikmatan surga tersebut, hanya saja tingkat kualitasnyalah yang membedakan. Artinya adalah ketika Allah sebutkan bidadari untuk Ashabul Yamiin, maka tentu Allah juga siapkan bidadari bagi As-Saabiquun. Ketika Allah sebutkan nikmat buah-buahan untuk As-Saabiquun, maka tentu Allah Subhanahu wa ta’ala juga menyiapkan buah-buahan untuk Ashabul Yamiin. Akan tetapi bagaimanapun juga Allah Maha Adil, sehingga kualitas nikmat antara As-Saabiquun dan Ashabul Yamiin tentu akan berbeda.([59])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ، وَثُلَّةٌ مِنَ الْآخِرِينَ

“Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan besar dari orang-orang yang belakangan.” (QS. Al-Waqi’ah : 39-40)

Ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk menjadi Ashabul Yamiin lebih besar daripada kesempatan menjadi As-Saabiquun, karena derajatnya yang berada di bawah As-Saabiquun.([60])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ

“Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.” (QS. Al-Waqi’ah : 41)

Setelah Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang golongan As-Saabiquun dan Ashabul Yamiin, maka tersisalah golongan ketiga yaitu Ashabu Asy-Syimaal (golongan kiri).

Sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, bahwa mereka disebut dengan Ashabu Asy-Syimaal karena mereka menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya, sebagai bentuk penghinaan Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap mereka([61]). Mereka juga dikatakan sebagai Ashabu Asy-Syimaal karena mereka diarahkan ke kiri menuju neraka Jahannam([62]). Dan setelah ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan sebagian azab yang akan mereka rasakan.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ

“(Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih.” (QS. Al-Waqi’ah : 42)

Namanya kita manusia di dunia ini tentu selalu mencari sesuatu yang segar-segar dan sejuk-sejuk. Ini telah menjadi naluri manusia terutama tatkala kita berada dalam cuaca yang panas, maka kita selalu ingin minum air yang segar atau ingin merasakan angin yang sejuk. Kalau di dunia saja seseorang sudah sangat menginginkan air dan angin yang sejuk, maka bagaimana lagi jika seseorang telah berada di neraka? Tentu mereka lebih butuh lagi terhadap angin yang sejuk dan air yang segar. Akan tetapi lihatlah bagaimana Allah menyebutkan angin dan air yang akan diberikan kepada Ashabu Asy-Syimaal. Anginnya sangat panas, bahkan disebutkan bahwa jika angin tersebut melewati wajah-wajah mereka, maka wajah mereka akan terbakar karena saking panasnya. Demikian pula air panas yang sangat mendidih, yang jika mereka meminumnya maka akan tercabik-cabik usus mereka([63]). Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa karena mereka telah dijemur di bawah terik matahari selama lima puluh ribu tahun di padang mahsyar, dan tatkala mereka dikelilingi api yang sangat panas di dalam neraka, maka mau tidak mau mereka harus meminumnya karena mereka sangat haus meskipun mereka tau bahwa air tersebut sangatlah panas. Dan kata Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat yang lain,

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi : 29)

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa saking panasnya air tersebut, bahkan sebelum mereka meminum air tersebut, panas dari air tersebut telah menghanguskan wajah-wajah mereka.([64])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ

“Dan naungan asap yang hitam.” (QS. Al-Waqi’ah : 43)

Kita di dunia, tatkala menghindari teriknya matahari, maka kita mencari pohon untuk bernaung. Dan Ashabu Asy-Syimaal di neraka juga diberikan tempat bernaung berupa asap yang hitam, dan mereka berharap naungan tersebut bisa memberikan kesejukan. Akan tetapi ternyata naungan tersebut sangat panas, dan ketika asap tersebut melewati mereka maka mereka pun hangus([65]). Kalau penulis boleh mengibaratkan bagaimana asap tersebut, maka seperti asap Wedhus Gembel([66]) yang sangat panas dan mematikan.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ

“Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (QS. Al-Waqi’ah : 44)

Yaitu angin, air minum, dan naungan yang Allah sebutkan tidak ada yang menyejukkan bagi mereka([67]). Bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan ketiga hal tersebut tidak menyenangkan dan membuat orang-orang yang melihatnya ketakukan.([68])

Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala belum berbicara tentang api neraka, melainkan baru berbicara mengenai angin, air, dan asapnya. Tentunya api neraka jauh lebih mengerikan daripada itu ketiga hal ini.

Lantas, kenapa mereka bisa mendapatkan siksaan tersebut? Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan sebab-sebabnya pada ayat selanjutnya.([69])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُتْرَفِينَ

“Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewahan.” (QS. Al-Waqi’ah : 45)

Ternyata di antara sebab yang membuat Ashabu Asy-Syimaal mendapatkan azab tersebut adalah karena dahulu di dunia mereka hidup bermewah-mewahan. Bermewah-mewahan dalam ayat ini bukanlah bermewah-mewahan secara umum mencakup semua orang kaya, karena di antara orang-orang yang beriman ada yang kondisi ekonominya kaya raya seperti Nabi Sulaiman dan Nabi Daud ‘alaihimassalam, juga seperti sebagian para sahabat yang kaya raya. Akan tetapi yang dimaksud adalah kemewahan yang membuat lalai dari bersyukur, lupa akan akhirat karena kesibukan dunia([70]). Ketahuilah bahwa syaithan selalu berusaha untuk menjerumuskan orang mukmin pada kesyirikan, dan kalau syaithan tidak mampu maka syaithan akan berusaha untuk menjerumuskan dalam dosa-dosa besar, kalau tidak mampu maka berusaha untuk menjerumuskan dalam kebid’ahan, kalau tidak mampu maka kemudian menjerumuskan dalam dosa-dosa kecil, kalau tidak bisa lagi maka syaithan akan berusaha menyibukkan dalam perkara yang makruh, kalau tidak bisa juga maka akan disibukkan pada perkara-perkara yang mubah, hingga akhirnya seseorang melupakan akhirat.

Maka dari itu, berusahalah untuk tidak terjebak dengan syaithan. Dan ketika kita diberi kelebihan harta, jangan sampai kita habiskan pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat. Oleh karenanya seseorang juga seharusnya berusaha untuk menjadi orang yang zuhud. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.”([71])

Lantas apa makna zuhud? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya menyebutkan tentang makna zuhud, beliau berkata,

تَرْكُ كُلِّ شَيْءٍ لَا يَنْفَعُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ

Meninggalkan setiap perkara yang tidak bermanfaat di akhirat.”([72])

Contoh sederhana, tatkala seseorang hendak membeli mobil yang mewah, maka hendaknya ia bertanya kepada dirinya terlebih dahulu, apakah mobil tersebut bermanfaat bagi dirinya di akhirat atau tidak? Kalau ternyata dia membeli mobil tersebut untuk menyenangkan keluarganya, menyenangkan orang tuanya, atau tujuan-tujuan lainnya yang bermanfaat untuk akhiratnya maka tidak mengapa untuk dibeli, dan orang seperti ini maka dia bisa dikategorikan sebagai orang yang zuhud. Adapun jika seseorang ingin membeli tas seharga ratusan juta, kemudian tas tersebut tidak ada manfaat baginya di akhirat, lantas dia tetap membelinya, maka dia bukanlah orang yang zuhud. Demikian pula barang yang lainnya, selama barang tersebut bermanfaat untuk akhirat kita maka tidak mengapa untuk dibeli, dan jika tidak ada manfaat untuk kita di akhirat maka hendaknya niat tersebut diurungkan. Ingatlah bahwa syaithan terkadang bisa menjerumuskan kita dengan perkara-perkara yang mewah, sehingga kita terjerumus pada perkara-perkara yang melalaikan kita dari akhirat.

Dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa di antara penyebab penghuni neraka disiksa adalah karena dahulu mereka bermewah-mewahan sehingga lalai dari Allah Subhanahu wa ta’ala, serta sombong dan merendahkan orang lain. Oleh karenanya penulis ingatkan bagi para laki-laki maupun wanita, untuk berhati-hati dengan barang mewah yang kita miliki, karena betapa banyak barang mewah tersebut telah membuat kita merasa lebih dari orang lain.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ

“Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar.” (QS. Al-Waqi’ah : 46)

Di antara hal lain yang membuat mereka mendapatkan siksaan tersebut adalah karena mereka dahulu terus-menerus mengerjakan dosa-dosa besar. Sebagian Ahli Tafsir menafsirkan dosa besar dengan kesyirikan.([73])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَانُوا يَقُولُونَ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ، أَوَآبَاؤُنَا الْأَوَّلُونَ، قُلْ إِنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، لَمَجْمُوعُونَ إِلَى مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ

“Dan mereka berkata, ‘Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?’ Katakanlah, ‘(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian, pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah ditentukan (hari kiamat)’.” (QS. Al-Waqi’ah : 47-50)

Sebab selanjutnya mengapa mereka disiksa adalah karena mereka memiliki akidah yang salah, yaitu mereka menyangka bahwa tidak ada hari kiamat. Mereka berakidah bahwa mereka tidak mungkin bisa dibangkitkan, bahkan nenek moyang mereka yang saat itu telah menjadi tulang belulang atau bahkan tulang tersebut telah berubah dan menyatu dengan tanah tidak mungkin bisa untuk dibangkitkan kembali. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan bantahan kepada mereka bahwa orang-orang terdahulu dari yang pertama sampai orang yang paling terakhir di muka bumi akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak di padang mahsyar.([74])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

ثُمَّ إِنَّكُمْ أَيُّهَا الضَّالُّونَ الْمُكَذِّبُونَ

“Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan.” (QS. Al-Waqi’ah : 51)

Yaitu mereka telah sesat, namun malah mendustakan agama Allah Subhanahu wa ta’ala.([75])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَآكِلُونَ مِنْ شَجَرٍ مِنْ زَقُّومٍ، فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ

“Pasti (kalian) akan makan dari pohon zaqqum, maka akan penuh perutmu dengannya.” (QS. Al-Waqi’ah : 52-53)

Pohon Zaqqum adalah pohon dengan buah yang sangat tidak enak([76]). Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang buruknya pohon Zaqqum tersebut,

لَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنَ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا لَأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَعَايِشَهُمْ، فَكَيْفَ بِمَنْ يَكُونُ طَعَامَهُ؟

Kalau seandainya setetes Zaqqum (nama pohon di neraka) menetes ke dunia, niscaya akan merusak kehidupan penduduk dunia. Lalu bagaimana dengan (keadaan) orang-orang yang menjadikan Zaqqum sebagai makanannya?”([77])

Penulis sering mengibaratkan tentang busuknya pohon Zaqqum dengan sebuah rumah mewah yang kita tinggali namun ada bangkai tikus yang tidak bisa kita buang sehingga bau bangkai tersebut mengganggu kehidupan kita di rumah. Dalam kondisi seperti itu maka rusaklah kehidupan kita, meskipun kita tinggal di rumah mewah, dengan makanan mewah, dan dengan perabot serta fasilitas yang mewah. Namun demikianlah, meskipunmereka tahu bahwa zaqqum adalah buah yang sangat tidak enak lagi menjijikkan, akan tetapi karena mereka sangat lapar maka mau tidak mau mereka tetap memakannya.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَشَارِبُونَ عَلَيْهِ مِنَ الْحَمِيمِ، فَشَارِبُونَ شُرْبَ الْهِيمِ

“Setelah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta (yang sangat haus) minum.” (QS. Al-Waqi’ah : 54-55)

Setelah mereka makan dengan sangat tidak nyaman, maka mereka ingin minum. Akan tetapi yang mereka minum setelah memakan makanan yang busuk adalah air yang sangat panas, dan mereka akan minum seperti unta yang sangat kehausan. ([78])Sebagian ulama menafsirkan bahwa الْهِيمِ adalah unta yang sakit, dan ketika sakit dia tidak pernah merasa hilang dahaganya sehingga ingin terus minum. Maka demikianlah penghuni neraka Jahannam, karena dahaga mereka tidak pernah hilang maka mereka akan minum terus menerus hingga perut mereka besar dan meledak. Demikianlah Allah Subhanahu wa ta’ala menggambarkan tentang penghuni neraka Jahannam.([79])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

هَذَا نُزُلُهُمْ يَوْمَ الدِّينِ

“Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan.” (QS. Al-Waqi’ah : 56)

Kata نُزُلْ dalam bahasa Arab artinya adalah jamuan. Ibaratnya adalah jika ada tamu yang datang ke rumah kita maka kita memberikannya نُزُلْ. Dari sini kita pahami bahwa hidangan-hidangan yang Allah sebutkan untuk penghuni neraka adalah hanya makanan pembuka di neraka Jahannam. Lantas bagaimana lagi jamuan untuk mereka setelah itu? ([80])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman?

نَحْنُ خَلَقْنَاكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُونَ

“Kami telah menciptakan kamu, mengapa kamu tidak membenarkan (hari kebangkitan)?” (QS. Al-Waqi’ah : 57)

Ketika mereka orang-orang kafir Quraisy mengingkari adanya hari kebangkitan([81]), maka Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala sendiri yang telah menciptakan mereka dan mematikan mereka, maka sesungguhnya menghidupkan mereka kembali adalah hal yang mudah bagi Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala mulai mengajak mereka untuk berpikir dan merenungkan perkara-perkara berikut ini 🙁[82])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ، أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ

“Maka adakah kamu perhatikan, tentang (air mani) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya, ataukah Kami penciptanya?” (QS. Al-Waqi’ah : 58-59)

Kita semua laki-laki paham bahwa kita tidak bisa menciptakan air mani. Dan tatkala usia kita belum baligh, kita tidak bisa menciptakan air mani. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala-lah yang menentukan kapan air mani itu bisa muncul. Bahkan ketika kita sudah keluarkan air mani tersebut, maka kita tidak bisa kemudian mengeluarkannya lagi, melainkan kita harus menunggu beberapa saat agar air mani tersebut terkumpulkan untuk bisa dikeluarkan kembali. Ini semua menunjukkan bahwa yang menciptakan air mani adalah Allah Subhanahu wa ta’ala, meskipun hal tersebut adalah diri kita. Dan bukti lain bahwa kita tidak bisa menciptakan air mani adalah ketika kita telah keluarkan dan air mani tersebut berada dalam rahim seorang wanita, maka kita tidak bisa tentukan bagaimana kesudahan air mani tersebut([83]). Kita tidak bisa menentukan bahwa air mani itu akan menjadi janin yang kelak putih, tinggi, mancung, dan pintar. Hal seperti ini diluar kehendak kita. Ini menunjukkan bahwa air mani itu bukanlah ciptaan kita melainkan ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala.([84])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ، عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Kami telah menentukan kematian masing-masing di antara kalian dan Kami tidak lemah.” (QS. Al-Waqi’ah : 60)

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah menghidupkan kita dari setetes air mani. Kemudian dari air mani tersebut Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan kita berkembang dari janin hingga menjadi dewasa. Setelah dewasa, kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala mematikan kita. Dan pada firman Allah,

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ

Kami telah menentukan kematian masing-masing di antara kalian.”

Para ulama mengatakan, ini menunjukkan bahwa kematian adalah seperti sesuatu yang dibagi. Artinya setiap di antara kita akan kebagian yang namanya mati namun kita tidak tahu kapan kita akan merasakan pembagian tersebut. Ini menunjukkan bahwa mereka sendiri tidak tahu kapan kematian itu akan datang kepada mereka. Dan ketika kematian itu telah datang, maka tidak ada yang bisa lari darinya. Bersembunyi dimanapun tetap saja kematian akan menghampiri. Maka saat itu kekayaan tidak lagi bermanfaat, pengawal yang jumlahnya ribuan tidak berguna sama sekali, bahkan jika dia seorang yang sangat jagoan sekalipun tidak akan bisa lari dari kematian tersebut.

Maka ketika mereka sadar bahwa hidup dan mati mereka itu diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, lantas mengapa mereka tidak mau membenarkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala bisa membangkitkan mereka pada hari kiamat kelak?([85])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ

“(Kami juga mampu) untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (di dunia) dan membangkitkan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Waqi’ah : 61)

Artinya jika Allah Subhanahu wa ta’ala berkehendak untuk mematikan mereka dan mengganti mereka dengan manusia yang lain, maka tentu Allah Subhanahu wa ta’ala mampu untuk melakukannya. Bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala mampu untuk membangkitkan mereka dalam kondisi yang mereka tidak ketahui.

Sebagian ulama mengatakan bahwa ini adalah dalil yang menunjukkan manusia akan dibangkitkan dengan jenis yang baru. Oleh karenanya penghuni neraka Jahannam ketika dibangkitkan akan menjadi lebih kuat, yaitu kuat untuk dijemur di bawah terik matahari yang berjarak satu mil dalam kurun waktu 50.000 tahun tanpa mati, mereka bisa melihat Iblis dan malaikat, kemudian di neraka mereka dibakar namun tidak akan mati. Intinya mereka akan diberi jasad yang baru agar mereka bisa merasakan siksaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Demikian pula penghuni surga, mereka akan dibangkitkan dengan wajah yang baru, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram.” (QS. Ali-‘Imran : 106)

Laki-laki yang masuk surga akan dijadikan tampan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dan wanita-wanita yang masuk surga akan dijadikan semakin cantik jelita. ([86])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْأَةَ الْأُولَى فَلَوْلَا تَذَكَّرُونَ، أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ، أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ

“Dan sungguh, kamu telah tahu penciptaan yang pertama, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan?” (QS. Al-Waqi’ah : 62-64)

Di sini Allah Subhanahu wa ta’ala membawakan dalil yang lain lagi yang menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala mampu untuk menghidupkan mereka kembali, karena mereka mengingkari adanya hari kebangkitan.

Allah Subhanahu wa ta’ala mengajak mereka untuk melihat tanaman yang mereka tanam. Sesungguhnya benih yang mereka tanam ditumbuhkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dan tugas manusia hanya sekadar menaruh benih tersebut. Bukankah tanah, hujan, bahkan benih itu dari Allah Subhanahu wa ta’ala? Bukankah Allah Subhanahu wa ta’ala yang menjadikan benih tersebut terbelah lalu kemudian tumbuh besar menjadi tanaman yang mereka harapkan([87])? Allah Subhanahu wa ta’ala tidak memberikan perumpamaan yang jauh bagi mereka dengan perumpamaan manusia, akan tetapi Allah memberikan perumpamaan terhadap tumbuhan yang segala prosesnya menunjukkan bahwa itu adalah ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala. ([88]) Seseorang mungkin karena begitu seringnya melihat tumbuhnya tanaman maka seakan-akan itu bukanlah hal yang agung dan ajaib. Padahal jika mau kita renungkan tumbuhnya sebuah bijih dalam tanah menjadi pohon yang besar adalah suatu keajaiban yang menunjukan ada yang mengaturnya yang maha hebat.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ، إِنَّا لَمُغْرَمُونَ، بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

“Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan (tumbuhan itu) sampai kering; maka kamu akan heran tercengang, (sambil berkata), ‘Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun’.” (QS. Al-Waqi’ah : 65-67)

Yaitu bahkan jika Allah Subhanahu wa ta’ala berkehendak, Allah Subhanahu wa ta’ala bisa untuk tidak menumbuhkan benih yang mereka tanam, meskipun mereka telah bersusah payah untuk mengusahakannya. Ini semua menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah pengatur segalanya. Kehidupan dan kematian mereka, kehidupan dan kematian tumbuhan, itu semua diatur oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.([89])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ، أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ، لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ

“Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?” (QS. Al-Waqi’ah : 68-70)

Segala proses turunnya air dari langit hingga bisa diminum oleh mereka asalnya dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Air yang menguap ke langit, kemudian membentuk awan, lalu kemudian air tersebut dijatuhkan ke bumi merupakan kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan jika sekiranya Allah Subhanahu wa ta’ala berkehendak maka air hujan tersebut akan turun menjadi air yang asin. Bahkan jika Allah berkehendak, maka air hujan tidak akan turun dalam bentuk tetesan air, bahkan bisa saja Allah menurunkannya dalam bentuk bola es atau bahkan balok es. Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan air hujan dalam bentuk tetesan, dan ternyata tetesan tersebut tidak menyatu satu sama lain, padahal jarak dari awan menuju tanah cukup jauh. Yang mengatur semua ini adalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Seandainya tetesan-tetesan tersebut berkumpul di langit sebesar danau lalu baru jatuh ke bumi tentu akan membinasakan manusia.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ، أَأَنْتُمْ أَنْشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنْشِئُونَ، نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِلْمُقْوِينَ

“Pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan dengan kayu? Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan? Kami menjadikannya (api itu) untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir.” (QS. Al-Waqi’ah : 71-73)

Sebagian ulama menyebutkan bahwa ada sejenis kayu yang jika digosokkan maka akan keluar api, namun tidak semua kayu bisa mengeluarkan api jika saling digosokkan. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala bertanya kepada mereka bahwa apakah Allah yang menciptakannya ataukah mereka yang menciptakan kayu tersebut? Tentu yang menciptakannya adalah Allah Subhanahu wa ta’ala.

الْمُقْوِينَ artinya adalah orang-orang safar di padang pasir([90]). Oleh karenanya disebutkan dalam sebuah hadits tentang keutamaan shalat di padang pasir. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الصَّلَاةُ فِي جَمَاعَةٍ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ صَلَاةً، فَإِذَا صَلَّاهَا فِي فَلَاةٍ فَأَتَمَّ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا بَلَغَتْ خَمْسِينَ صَلَاةً

Shalat berjamaah itu sama dengan shalat sebanyak dua puluh lima kali. Jika shalat di tengah padang pasir dengan menyempurnakan rukuk dan sujud, maka itu sebanding dengan shalat sebanyak lima puluh kali.”([91])

Keutamaan tersebut disebabkan karena tempat tersebut bukanlah tempat yang biasa disebut nama Allah dan tidak ada yang melihat, maka jika dia tetap shalat di padang pasir tersebut maka pahalanya lebih besar daripada shalat yang biasa dilakukan selain di padang pasir.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.” (QS. Al-Waqi’ah : 74)

Bertasbih disini bisa artinya kita bertasbih dengan kalimat yang di antaranya adalah,

سُبْحَانَ اللَّهِ وبِحَمْدِهِ

Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.”

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ

Maha Suci Rabb Yang Maha Agung.”

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

Maha Suci Rabb Yang Maha Tinggi.”

Atau bertasbih dalam bentuk shalat, karena di antara makna tasbih adalah shalat. ([92])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ

“Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.” (QS. Al-Waqi’ah : 75)

Bintang adalah di antara makhluk Allah yang agung. Bahkan dalam beberapa ayat Allah Subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan bintang. Di antaranya Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ

Demi langit dan yang datang di malam hari (bintang).” (QS. Ath-Thariq : 1)

فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ، الْجَوَارِ الْكُنَّسِ

Aku bersumpah demi bintang-bintang, yang datang dan terbenam.” (QS. At-Takwir : 15-16)

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى

Demi bintang ketika terbenam.” (QS. An-Najm : 1)

Ini semua menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan makhluk-Nya yang Dia kehendaki.([93])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ، إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ، فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ، لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui, dan (ini) sesungguhnya Alquran yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauhil Mahfudzh), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah : 76-79)

Sumpah yang dimaksud adalah Allah Subhanahu wa ta’ala bersumpah bahwa Alquran adalah bacaan yang mulia yang terpelihara di Lauhil Mahfudzh, dan tidak ada yang menyentuh Alquran tersebut kecuali yang disucikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala yaitu para malaikat. ([94])

Ayat ini berbicara tentang Alquran yang ada di Lauhil Mahfudzh, dan bukan Alquran yang kita pegang saat ini, karena Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa Alquran tersebut tersimpan di tempat yang terpelihara yaitu Lauhil Mahfudzh, dan yang menyentuhnya hanyalah para malaikat yang disucikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. ([95])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ

“(Alquran) Diturunkan dari Tuhan seluruh alam. Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Alquran)?” (QS. Al-Waqi’ah : 80-81)

Yaitu Alquran yang turun dari Allah Subhanahu wa ta’ala, yang sangat mulia([96]), lantas kemudian mereka meremehkannya?([97])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ

“Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan-Nya.” (QS. Al-Waqi’ah : 82)

Ayat ini berkaitan dengan orang-orang yang tatkala turun hujan, mereka menyandarkan turun hujan tersebut dengan bintang tertentu, dan ini menunjukkan sikap tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bahkan sikap itu adalah di antara bentuk kesyirikan. Mereka menjadikan rasa syukur atas turunnya hujan dengan menisbatkannya kepada bintang-bintang, padahal itu adalah bentuk pendustaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.([98])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ

“Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan.” (QS. Al-Waqi’ah : 83)

Para paragraf terakhir dari surah Al-Waqi’ah, Allah Subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang kondisi manusia tatkala meninggal dunia. Dan Allah memulai dengan firman-Nya ini.([99])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala

وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ، وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ

“Dan kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat.” (QS. Al-Waqi’ah : 84-84)

Kata “Kami” dalam ayat ini maksudnya adalah malaikat. Maka dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa tatkala seseorang hendak meninggal dunia, maka akan datang banyak malaikat kepada orang tersebut, baik dia orang yang beriman ataupun kafir. Adapun orang yang berada di sekitar orang yang hendak meninggal dunia tidak dapat melihat malaikat tersebut.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَوْلَا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ

“Maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasai (oleh Allah).” (QS. Al-Waqi’ah : 86)

Yaitu dengan peristiwa yang mereka lihat tersebut, mengapa mereka tidak merasa akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa ta’ala? Apakah mereka merasa bahwa ketika mereka mati maka akan selesai segala urusan?([100]) Tentu tidak, ketika mereka meninggal maka ruh mereka akan diambil dan masih ada urusan setelah itu.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Kembalikanlah (nyawa) itu jika kamu orang yang benar.” (QS. Al-Waqi’ah : 87)

Yaitu apabila mereka tidak meyakini adanya hari hisab, maka hendaknya mereka kembalikan nyawa tersebut. Tentu mereka tidak akan mampu, karena tidak ada yang bisa mengembalikan nyawa yang telah diambil oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.([101])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ، فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ

“Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga (yang penuh) kenikmatan.” (QS. AL-Waqi’ah : 88-89)

Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tiga golongan manusia di awal surah, maka di akhir surah ini Allah Subhanahu wa ta’ala juga menyebutkan kembali tentang tiga golongan tersebut.

Golongan pertama yang Allah maksud dalam ayat ini adalah golongan As-Saabiquun. Mereka golongan As-Saabiquun, tatkala meninggal dunia akan merasakan kegembiraan, dan bahkan rezeki tatkala ruhnya akan dicabut([102]). Hal ini sama seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fushshilat : 30)

Maka orang-orang yang tergolong dalam golongan As-Saabiquun, dia akan melihat kenikmatan di hadapannya tatkala dia hendak meninggal dunia, sehingga dia akan bahagia, senang, dan tenteram([103]).

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ، فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ

“Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka, ‘Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan’. (sambut malaikat).” (QS. Al-Waqi’ah : 90-91)

Ashabul Yamiin tentunya juga masuk ke dalam surga, mendapat kenikmatan-kenikmatan sebagaimana golongan As-Saabiquun, akan tetapi derajat Ashabul Yamiin berada di bawah As-Saabiquun.

Adapun perkataan salam malaikat artinya adalah malaikat menyampaikan kepada orang-orang Ashabul Yamiin bahwa mereka akan selamat setelah ruh keluar dari jasad mereka. Meskipun mungkin selama di dunia mereka tidak selamat dari caci maki dan hinaan, tidak selamat dari penyakit, tidak selamat dari gangguan orang lain, akan tetapi ketika ruh telah keluar maka mereka akan selamat seluruhnya.([104])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman.

وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ، فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ، وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ

“Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan dan sesat, maka dia disambut siraman air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka.” (QS. Al-Waqi’ah : 92-94)

Adapun golongan ketiga, yaitu Ashabu Asy-Syimaal, tatkala mereka hendak dicabut ruhnya, maka mereka akan disambut dengan siraman air yang mendidih, dan setelah itu mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam.([105])

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ، فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

“Sungguh, inilah keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar.” (QS. Al-Waqi’ah : 95-96)

Sebagian ulama menafsirkan bahwa kondisi orang yang akan meninggal menjadi tiga model inilah yang dimaksud sebagai keyakinan yang pasti terjadi. Sehingga kita harus menyiapkan diri kita, karena kita pasti menjadi salah satu dari tiga golongan tersebut. Maka kemudian tinggal kita memilih mau termasuk golongan orang yang muqarrabiin (As-Saabiquun), Ashabul Yamiin, atau bahkan Ashabu Asy-Syimaal([106]). Akan tetapi setiap golongan ada konsekuensi yang harus diterima. Sebagian ulama yang lain menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan keyakinan yang benar adalah Alquran atau hari kiamat.([107])

______________________________________________________________________

 

([1])  HR. At-Tirmidzi no. 3297, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani, Al-Hakim dan Adz-Dzahabi

([2])  HR. Ahmad no. 21033 dengan sanad shahih lighairihi

([3])  Al-Muharror al-Wajiiz 5/238, Ibnu Áthiyyah berkata ;

فِيْهَا ذِكْرُ الْقِيَامَةِ، وَحُظُوْظِ النَّاسِ فِي الآخِرَةِ، وَفَهْمُ ذَلِكَ غِنًى لاَ فَقْرَ مَعَهُ، وَمَنْ فَهِمَهُ شُغِلَ بِالاِسْتِعْدَادِ

“Pada surat ini penyebutan tentang hari kiamat, dan nasib manusia di akhirat, dan memahami hal ini merupakan kekayaan yang menafikan kefaqiran. Dan barang siapa yang memahami hal ini maka ia akan tersibukan dengan persiapan (menuju hari kiamat)”

([4])  Lihat Tafsir al-Qurthubi 17/194

([5])  Lihat at-Tahriir wa at-Tanwiir, Ibnu Ásyuur 27/282

([6])  Lihat Tafsir al-Qurthubi 17/196

([7])  HR. Bukhari no. 6447

([8])  HR. Bukhari no. 5652 dan HR. Muslim no. 2576

([9])  Lihat at-Tahriir wa at-Tanwiir, Ibnu Ásyuur 27/283

([10])  Tafsir Al-Qurthubi 17/196

([11])  Tafsir Al-Qurthubi 17/196

([12])  Lihat Tafsir Al-Qurthubi 17/197

([13]) Lihat: Gharibul Qur’an Li Ibnu Qutaibah hal.384

([14]) Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 5/448

([15])  HR. Bukhari 2790

([16]) Fathul Bari Li Ibnu Hajar 6/12

([17]) Lihat: Ma’anil Qur’an Li Az-Zajjaj 5/109

([18]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/286

([19]) Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 7/9

([20]) Lihat: Tafsir Ath-Thabariy 23/98

([21]) Lihat: Ma’anil Qur’an Li Az-Zajjaj 5/109

([22]) Lihat: Al-Kassyaf Li Az-Zamakhsyariy 4/458

([23])  HR. Bukhari no. 3650

([24]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 7/518

([25]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/291

([26]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/292

([27]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/202

([28]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/203

([29]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/293

([30]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/294

([31]) Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/10

([32]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/294

([33]) HR. Bukhari no. 5575 dan HR. Muslim no. 2003

([34]) Lihat: Fathul Bari Li Ibnu Hajar 10/32

([35]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/204 dan At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/295

([36]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/204

([37]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 15/80

([38]) Lihat: Bahrul ‘Ulum Li As-Samarqandiy 3/392

([39]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/296

([40]) Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 5/452

([41]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/296

([42]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/206

([43]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/297

([44]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 7/525

([45])  Tafsir Ibnu Katsir 1/205

([46]) Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/12

([47]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/299

([48]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/209

([49]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/210

([50]) Lihat: Tafsir Ath-Thabariy 23/118

([51])  HR. Ahmad no. 15836

([52]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/210

([53])  HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syamaail Muhammadiyah 1/144  dan dinilai hasan oleh Al-Albani (lihat As-Shahihah 6/1221 no 2987)

([54]) Haadil Arwah Li Ibnul Qayyim hal.225

([55]) Lihat: Haadil Arwah Li Ibnul Qayyim hal.225

([56]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/210

([57]) Haadil Arwah Li Ibnul Qayyim 1/227

([58]) Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 5/456

([59]) HR Ahmad no 7933 dengan sanad yang hasan

([60]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/303

([61]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/213

([62]) Lihat: Tafsir Ath-Thabariy 23/95

([63]) Lihat: Al-Kassyaf Li Az-Zamakhsyariy 4/463

([64]) Lihat: Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Surat Al-Kahfi Li Ibnu Al-‘Utsaimin hal.63

([65]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/246

([66]) Wedhus gembel secara bahasa artinya domba/kambing yang berbulu lebat, akan tetapi  nama wedhus gembel akrab terdengar bagi warga di sekitar Gunung Merapi. Wedhus gembel yang dimaksud ini bukanlah domba berbulu lebat, melainkan julukan untuk awan panas bergulung-gulung yang acap menyertai letusan Merapi, yang suhunya bisa mencapai 700 derajat celcius.

([67]) Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/18

([68]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/305

([69]) Lihat: Tafsir As-Sa’diy hal.834

([70]) At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/305

([71])  HR. Bukhari no. 6416

([72])  Majmu’ Fataawa 10/641

([73]) Tafsir Al-Qurthubiy 17/213

([74]) Tafsir Al-Qurthubiy 17/214

([75]) Lihat: Al-Kassyaf Li Az-Zamakhsyariy 4/463

([76]) Tafsir Al-Qurthubiy 17/214

([77])  Shahihul Jami’ Ash-Shaghir no. 5250

([78]) Lihat: Tafsir Ath-Thabariy 23/134

([79]) Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 5/457, Tafsir Al-Baghawiy 8/19 dan Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/247

([80]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/215

([81]) Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/19

([82]) Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 5/458

([83]) Lihat: Gharibul Qur’an Li Ibnu Qutaibah hal.388

([84]) Lihat: Al-Kassyaf Li Az-Zamakhsyariy 4/465

([85]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/314

([86]) Lihat: I’rabul Qur’an Li An-Nahhas 4/226

([87]) Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 5/460

([88]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/217

([89]) Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 5/460

([90]) Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/21

([91])  HR. Abu Daud no. 560

([92]) Lihat: At-Tafsir Al-Qayyim Li Ibnu Al-Qayyim 527

([93]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/223

([94]) Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/23

([95]) Lihat: Syarhul ‘Umdah Li Ibnu Taimiyyah Kitab Ath-Thaharah hal.383

([96]) Lihat: Tafsir Ibnu ‘Athiyyah 5/252

([97]) Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 5/465

([98]) Lihat: Tafsir Al-Mawardiy 5/465

([99]) Lihat: At-Tahrir wa At-Tanwir Li Ibnu ‘Asyur 27/346

([100]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/231

([101]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/231

([102]) Lihat: Tafsir Al-Baghawiy 8/25

([103]) Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 7/548

([104]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/233

([105]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/234

([106]) Lihat: Tafsir Ath-Thabariy 23/164

([107]) Lihat: Tafsir Al-Qurthubiy 17/234

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Add Comment *

Name *

Email *

Website

Stay up to date with our news, ideas and updates